Minggu, 30 April 2017

20yo

Saya sekarang hampir menginjak 20 tahun. Dan bicara soal umur yang dijuluki sebagai kepala dua ini, saya pernah membacanya di artikel bahwa pada umur ini dapat disebut sebagai masa remaja yang sebentar lagi akan masuk ke masa dewasa.
Jujur, saya kurang paham betul bagaimana memahami perbedaan dewasa atau tidaknya seseorang. Maklum, saya memang bukan mahasiswi jurusan psikologi. Saya hanya mahasiswi jurusan teknik, yang sempat penasaran dengan permasalahan kedewasaan ini. Untungnya, saya punya sahabat yang merupakan mahasiswi jurusan psikologi.

"Seingetku sih kalo di psi perkembangan, kedewasaan itu titik mula nya gak saklek di usia berapa gt nad. Soalnya kedewasaan itu bisa diliat dr berbagai aspek. Kayak misalnya, secara hukum kita dibilang udh dewasa ketika udh punya ktp. Secara finansial kita dibilang udh dewasa ketika udh pny penghasilan sendiri. Secara seksual kita dibilang udh dewasa ketika udh berfungsi sexually secara optimal. Secara sosial kita dibilang udh dewasa ketika udh bisa bangun keluarga/jalin hubungan romantis.. Gitu2 hehehe."
-Fabiola Meseaga, pacarnya sungha jung.

Entah kenapa, saya kerap kali berfikir kalau saya belum menjadi seseorang yang cukup dewasa sesuai dengan umur saya yang akan menginjak 20 tahun. Mulai dari kebiasaan saya seperti

1. Lebih suka nonton film kartun atau animasi dibandingkan dengan nonton film bergenre romantis, action, dsb. Tapi hobi utama saya membaca.
2. Sering merasa bahwa apapun hal-hal atau kesalahan kecil sangat menghacurkan mood saya.
3. Mudah mengeluh
4. Tidak peka terhadap lingkungan sekitar
5. Masih belum berani menyuarakan pendapat

Dan masih banyak lainnya.

Dan tidak disadari, ternyata jika kita terus berperilaku sekenanya, tp menganggap bahwa usia sama sekali tidak memengaruhi seseorang dalam menyikapi berbagai hal, justru dapat membuat orang lain memandang kita negatif.
*Ini hanya dr kacamata saya saja sih sebenarnya.

Singkat cerita,
harusnya malam ini saya bisa ikut kumpul reuni kelas sma bersama teman-teman saya. Saya juga sempat menginfokan kepada yang mengajukan rencana untuk kumpul sehari sebelum acara tersebut (sebut saja tuan), kalau saya akan mengusahakan untuk hadir. Kenapa mengusahakan? Karena saya belum bisa berjanji untuk datang, saya tidak akan tahu situasi atau kondisi yang bisa saja berubah secara mendadak.

Dan ternyata, pagi harinya ibu saya jatuh sakit. Dan saya merasa bahwa sepertinya malam ini saya tidak bisa pergi ke acara kumpul reuni ini. Akhirnya ketika sore hari, saya langsung menghubungi teman saya si tuan ini, bahwa saya tidak dapat hadir. Lalu apa responnya?


"Tuan, maaf kayanya gue gabisa ikut hari ini. Ibu gue sakit. Ga enak mau pergi2nya juga. Next time yaa"

"Gak ada next time nad hehe. Makasih ya udh mau ngerespon w. Hh"

Loh, kok ga ada next time? Jujur saya sebenarnya ga mengerti kemana arahnya. Tp saya rasa jawaban dia sedikit sarkas untuk saya.

"Maksudnya ga ada? Iya maaf ya"

"Yaa paham lah hehe"

Saya semakin bingung dan sedikit. Hal seperti apa sih yang harus di ambigu kan seperti ini.

"Tbh ga ngerti beneran. Yaudah makasih ya"

Lalu si tuan menjawab

"Yaudah, anggep aja gak ada apa2 nad hehe"


Apa tanggapan anda jika teman anda membalas seperti ini?
Mungkin tidak banyak yang responnya seperti saya. Kesal.

Jujur saya kesal sekali ketika mendapatkan jawaban seperti itu.

Saya agak kesal karena menurut saya kata2 tersebut cukup sarkas dan sedikit kekanak2an. Tidak sesuai dengan respon atau tanggapan dari seorang mahasiswa.

Bukannya berharap sesuatu yang berlebih,
Saya hanya berharap bahwa balasannya dapat berupa balasan
"Iya ga apa apa"
" iya lain kali ya"

Atau balasan lainnya yang menunjukkan bahwa, ia sangat menghargai alasan saya tidak bisa hadir.

Saya beranggapan bahwa si tuan ini masih agak kekanak kanakan. Masih kurang menghargai alasan saya yang tidak bisa hadir dan menjawab dengan sekenanya " ga ada next time ".
Tolong ya mas, ini acara bukan acara anda saja. Acara semua. Dan tolong jangan mengutamakan kepentingan pribadi untuk acara bersama. Terus atas dasar apa anda bilang ga ada next time?

Disini saya hanya ingin mengingatkan dan sama sama belajar. Memang benar, umur 20 tahun belum termasuk dewasa. Memang benar, kedewasaan dalam menyikapi berbagai hal timbul dalam aspek yang berbeda dan dalam kurun waktu yang berbeda juga. Namun, saya rasa tidak ada salahnya untuk belajar bersikap dewasa dalam berbagai hal.

Belajar untuk berfikir bahwa di umur 20 ini, kita menuju ke masa di mana perlu tanggung jawab dan attitude yang baik. Di umur 20 tahun, dimana puncak kesuksesan mulai direncanakan secara matang. Di umur 20 tahun, di mana dapa menghargai pendapat orang dan berani menyuarakan pendapat. Di umur 20 tahun, sudah bisa membedakan yang baik dan yang tidak.

Yuk kita sama sama belajar untuk lebih dewasa sedikit dalam menyikapi berbagai hal😊


Ini hanya berdasarkan pendapat saya ya, mohon koreksi jika ada kesalahan. Terima kasih :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar